Love Song by Hamada Mariko + Tokyo Shounen (movie)

‘Love Song’ Indonesian translation:

Seperti ini, kuingin mati, hanya dalam genggaman tanganmu
Dikelilingi kelembutan
Di bawah langit berbintang ini

Sungguh, sungguh, aku bermimpi akan waktu ini
Waktu di mana kau hanya milikku seorang

Sungguh, sungguh, ingin selalu seperti waktu ini
Hei, siapakah yang dapat menghentikan waktu?
Demi kita

Bukanlah ‘cinta abadi’ yang kuinginkan
Di waktu yang sekarang ini
Bersamamu, berdua

Seperti ini, kuingin mati, hanya dalam genggaman tanganmu
Dikelilingi kelembutan
Di bawah langit berbintang ini

Bukanlah ‘cinta abadi’ yang kuinginkan
Di waktu yang sekarang ini
Bersamamu, berdua

Seperti ini, kuingin mati, hanya dalam genggaman tanganmu
Dikelilingi kelembutan
Di bawah langit berbintang ini

*****

Halo, minna-san! Kali ini saya mau ngeborong, nih… Yah, setidaknya mau membayar hutang-hutang (aduh… keceplosan…) saya yang amat-sangat-teramat menggunung. Setelah men-translate lagu di atas (yang merupakan soundtrack-nya film ‘Tokyo Shounen’ yang diperankan oleh Horikita Maki-san, saya sekalian ingin menceritakan sedikit mengenai film ini. Udah lama juga nggak ditonton… kangen…

Yup! I will try my best! Here we go! 😀

Alkisah (wew… bahasa sastra tingkat tinggi), ada seorang cewek bernama Fujiki Minato (diperankan oleh Horikita Maki) yang baik dan lembut. Dia bekerja di sebuah supermarket.

Nah, pada suatu hari, muncullah seorang cowok bernama Karasawa Shu (diperankan oleh Ishida Takuya) yang bertemu dengan Minato di supermarket tersebut. Mereka nggak sengaja saling nabrak dan barang-barang yang dibawa oleh Minato tumpah semua. Kendati semua barang telah kembali tersusun, ada onigiri yang rusak karena tertimpa lutut Minato. Dengan gaya yang dibuat se-cool mungkin, Shu langsung membeli onigiri itu dan berlalu… meninggalkan Minato yang sepertinya langsung jatuh cinta padanya, pada pandangan yang pertama…

Beberapa hari kemudian, Shu datang lagi ke supermarket tempat Minato kerja, dan dia ketemu sama Minato (kebetulan Minato lagi jadi kasir). Eh… apel yang dibeli Shu malah ketinggalan. Minato pun mengejar Shu seraya berlari-lari kecil. Mereka berdua akhirnya saling berkenalan.

Shu dan Minato jadi semakin dekat. Minato bercerita pada Shu tentang dirinya, orang tuanya yang telah meninggal, dan seorang cowok yang menjadi sahabat penanya. Nama sahabat pena Minato adalah Naito (kalau dibuat jadi Inggris, ‘Naito’ akan menjadi ‘Night’ atau ‘Knight’). Naito adalah sahabat pena Minato sejak Minato berumur 9 tahun. Minato kerap menceritakan hari-harinya kepada Naito melalui surat, dan Naito selalu membalas. Minato juga menceritakan tentang Shu kepada Naito, tapi Naito selalu menanggapi hal tersebut dengan dingin. Tampaknya, Naito juga menaruh hati terhadap Minato.

Keesokan harinya, Minato terbangun dari tempat tidurnya dengan wajah linglung. Ia kelihatan heran kenapa ia tiba-tiba bisa langsung berada di kamarnya. Padahal yang terakhir dia ingat, ia masih di taman bersama dengan Shu. Minato lantas mengambil HP-nya dan mengecek nomor telepon Shu, tapi nihil. Nomor Shu seolah terhapus dari contact-nya. Foto Shu yang digunakannya sebagai wallpaper pun lenyap entah ke mana.

Minato menemui Shu. Minato lantas menceritakan pada Shu kalau ia sering kehilangan memorinya, terutama di waktu malam hari. Shu lalu mengusulkan untuk pergi ke dokter. Kebetulan sekali ayah Shu adalah seorang dokter spesialis.

Minato ingat setiap kejadian yang dialaminya hanya sampai ketika ia masuk ke tempat pemeriksaan. Sesudah itu, ia lupa segalanya. Dan ketika esok hari ia terjaga, ia telah berada di tempat tidurnya. Minato tentu bertambah bingung dengan keadaannya ini. Apalagi setelah Shu menemuinya dan berkata kalau ternyata dia sudah punya kekasih. Hati Minato semakin bertambah sedih.

Di tengah kegalauannya, Minato menulis surat pada Naito. Ia mengatakan bahwa ia sangat ingin bertemu dengan Naito. Di dalam surat tersebut, Minato juga menyertakan lokasi dan waktu untuk pertemuan mereka. Minato menunggu kedatangan Naito di samping kotak surat Yuhigaoka, tempat di mana Minato selalu memasukkan surat-surat yang ia peruntukkan khusus kepada Naito. Minato menunggu Naito, dari pagi hingga malam. Namun hati Minato kembali diliputi kekecewaan tatkala Naito tidak menunjukkan batang hidungnya. Dengan perasaan hampa, Minato pun pulang.

Sesampainya di rumah, Minato menemukan sebuah kunci dengan gantungan apel yang sepertinya sengaja diletakkan di bawah pot bunga yang ambruk di teras rumah Minato. Minato juga mendapati surat dari Naito, disertai alamat pengirim. Sedikit cemas, Minato menguatkan langkahnya, dan menuju tempat di mana Naito berada.

‘Rumah’ Naito tampak seperti apartemen (atau mungkin rumah sakit?)  yang sudah tua dan tak terurus. Minato membuka pintu dengan kunci yang ia temukan di bawah pot bunganya tadi. Ditelusurinya tangga dan ruangan-ruangan yang ada.

Sampailah Minato di sebuah ruangan. Di sisi ruangan tersebut, Minato kaget tatkala mendapat syal yang kerap dikenakannya, tergantung di sana. Sebuah cermin besar memantulkan sosok Minato. Minato lantas meneliti pantulannya di cermin. Dan tiba-tiba Minato tersadar… sebetunya Naito itu bukan orang lain, bukanlah seseorang yang tak dikenalnya, bukanlah seseorang yang tidak dekat dengannya…

Sebenarnya Naito adalah dirinya sendiri. ‘Kepribadian kedua’ miliknya. Naito mencintai Minato dan membenci Shu yang juga menyayangi Minato. Selama ini Minato kehilangan ingatannya bukan karena sakit, tapi karena Naito mengambil alih tubuhnya. Terjawab sudah siapa sosok Naito sesungguhnya.

Ending-nya? Yah… kayaknya nggak seru deh kalau dibeberkan sendiri… nanti saya kasih link untuk nonton film-nya deh… hehehe… 😀

Nah, secara keseluruhan, saya SUKA BANGET dengan film ini! Aktingnya Horikita Maki-san kereeeeennnnn banget!! Sumpah… dia bisa bersikap imut dan lembut sewaktu jadi Minato. Tapi sebaliknya, dia juga bisa bertingkah laku kasar, mirip preman, dan ‘cowok banget’ ketika dia jadi Naito! Ekspresinya itu lho… sumpah… KEREN! Dia bisa membedakan karakter yang ia mainkan dengan baik hanya dengan air mukanya saja. Uwaaaahhh! Daisuki yo, Maki-san! 😀

Kekurangan dari film ini sih… yah, kalau menurut saya, cuma hanya karena ada adegan-adegan flashback yang sedikit membingungkan, dan mungkin karena lagu soundtrack-nya yang sangaaattt lembut sehingga membuat sedikit (maaf) bosan. Tapi ‘Tokyo Shounen’ adalah film yang sangat pantas untuk disaksikan. Akting Horikita Maki-san perlu diperhitungkan di sini. Top deh pokoknya! Melihat dia berakting jadi Minato dan Naito, jadi teringat akan diri sendiri… (hello… memangnya situ punya kepribadian ganda ya?) *ditabok sendal jepit*

Dan di film ini banyak nuansa apel, ya! 😀
Oh ya, satu lagi… kenapa sih film ini judulnya ‘Tokyo Shounen’? ‘Kan karakter utamanya cewek… Tapi ya sudahlah…

Oke deh! Ini semua link yang berkenaan dengan post saya kali ini… Douzo~!

Materi referensi:
Film ‘Tokyo Shounen’

Terjemahan lirik:
http://alisoniii.blogspot.com/2008/09/tokyo-shonen.html
http://fullmp3.mobi/lyrics.php?66154170,4503,667116,3f322be5d00f,KjRFDXXvgrCeMCBRMA%3D%3D,LjpeCTHdzZOYYmF1DKexfzqkPzHwkreddq%2BDVyNxrqzb,2552337 (translation di web ini menggunakan bahasa Rusia, jadi saya menggunakan Google translate untuk bisa memahaminya. Arigatou!)

Sumber gambar:
http://4f.img.v4.skyrock.net/4f8/x-drama-x-azn-x/pics/2889200215_1.jpg

‘Tokyo Shounen’ part 1:
http://www.youtube.com/watch?v=yuvOyZfNYEM&feature=BF&list=PL5B2F88562CA45EC8&index=1

See you in my next post! 🙂
*note: Ah… saya lupa untuk nulis di sini sewaktu saya ultah… hiks… 😦

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s